Langsung ke konten utama

Pilihan Para Penumpang



Akhir akhir ini saya sering membaca analogi ini di timeline timeline media sosial. Begini nih isi nya "Indonesia adalah sebuah bus yang sedang mengarah pada suatu tujuan" pernah mebaca atau melihatnya?
Demikianlah analogi yang sering di lantunkan dengan semangat oleh pendukung pasangan capres-cawapres (tertentu) dalam pemilu 2019
Dalam analogi tersebut, dapat kita pahami masyarakat sebagai penumpangnya sedangkan pilpres sebagai sebuah transisi, ketika para penumpang memutuskan apakah mereka akan tetap menggunakan supir lama atau menggantinya dengan supir baru.
.
.
Seberapa tepat penumpang membidik supir yang akan mengendarai bus bernama Indonesia ini menentukan keselamatan mereka sampai ditujuan?
.
.
Jika yang di pilih para penumpang adalah supir yang ugal ugalan, penumpang tidak akanu tiba di tujuan dengan selamat justru masuk jurang dan celaka. Lebih baik lambat asal selamat di bawah kendali supir yang kadang nampak bingung dan kerap mengambil jalan yang berputar putar demi keselamatan seluruh penumpangnya.
.
.
Apa analogi ini sahih ?
Satu hal yang bisa saya sepakati dalam analogi tersebut adalah IYA MEMANG BETUL BAHWASANYA MASYARAKAT INDONESIA SEDANG BERADA DI DALAM PERJALANAN. Selebihnya, bisa saya sepakati jika hanya saya adalah seorang pemuja monarki absolut atau pendukung il-liberal democracy ala sukarno maupun suharto.
.
.
Apa dalam sistem monarki absolut atau illiberal democracy, kepala negara adalah pemimpin dengan kewenangan tertinggi-sama halnya dengan seorang supir dalam sebuah bus yang mana nasib penumpang ditentukan oleh kepiawaian dan kewarasan sang supir tadi yang menentukan arah,kecepatan, dan lika liku perjalanan ?
.
.
Pertama kali, negara bukan lah sebuah Bus sama sekali bukan. Ehe. Sebuah negara adalah sebuah fiksi, iya fiksi dalam beberapa sejumlah musafir dalam sebuah perjalanan untuk meraih kebahagiaan(pursuit of happines). Kalaupun ada yang lebih kongkret dari sebuah negeri,maka tidak lain tidak bukan adalah sang musafir di perjalanan itu sendiri.
.
.
Memang ada sebuah atau beberapa bus yang menawarkan kepada calon penumpang proses perjalanan yang mengklaim lebih nyaman dan keselamatan tiba di negeri dengan tujuan bersama ketimbang berjalan kaki. Salah satu bus itu bernama demokrasi. Bus yang lain bernama khilafah atau nama yg lain :D
.
.
Hal yang mwmbuat demokrasi menarik diantara merk merk lain adalah karna dia menjanjikan suatu psngalaman perjalanan yang menempatkan penumpang sebagai penentu arah dan bagaimana bus itu seharusnya di kendarai oleh para pengendali yang dipillih di antara para penumpang bus itu sendiri.
.
.
Hal lain yang membuat demokrasi ini menarik adalah sistem pengendalian yang canggih dengan melibatkan lebih dari satu elemen pengendali yakni eksekutif,legisllatif,dan yudikatif. Belum lagi, banyak lagi subsistem pengendalian yang tidak diwakilkan seperti ormas dan pers. Inilah teori demokrasi yang tidak hanya bertumpu atau dikendalikan oleh supir bus saja.
.
.
Bisa dipastikan, kecanggihan demokrasi sebagai sebuah bus mempunyai kompleksitasnya sendiri, terkhusus terkait dengan ragaman prefensi penumpang penumpang nya tentang tujuan hidup, nilai, kepentingan, dsb.
.
.
Bagaimana dengan mereka yang diluar bus demokrasi? Misal mereka yang memakai angkutan massal lain atau memakai kendaraan pribadi? Atau bahkan jalan menggunakan kaki? But why not?
.
.
Tapi yang gak kalah penting adalah para penumpang bus demokrasi memastikan bus yg mereka tumpangi adalah bus yang nyaman teruntuk mereka sendiri, tidak saling baku hantam dengan mereka yang menggunakan angkutan bermerk yang sama atau bahkan menabrak para musafir diluar yang tidak berabahaya dan hanya ingin mencapai kepuasaan serta kebahagiaan dengan cara lain yang damai tentunya.
.
.
Hanya dengan menunjukkan model terbaiknya, bus demokrasi akan mengangkut lebih banyak penumpang. Ehe ehe. Jika tidak demikian, maka akan mumgkin jika banyak penumpang yang memilih kendaraan lain untuk mendefinisikan kembali indonesia diluar cara cara demokratis. Ehe



-norma aulia-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cyber sex : Tantangan baru millenial di masa pandemi.

Rasa bosan dan lelah karena berdiam diri di rumah terlalu lama kerap kali dihadapi oleh para millennial. Mereka yang terbiasa aktif dan mempunyai mobilitas yang tinggi tiba-tiba dihadapkan pada kondisi pandemi covid-19 yang membatasi aktivitas mereka.  Mau tidak mau mereka harus menyesuaikan diri menghadapi situasi ini. Salah satu hal yang kerap menjadi ruang aktualisasinya adalah ruang siber. Ruang tersebut akan banyak membantu mengusir kebosanan mereka di tengah kondisi krisis yang belum juga membaik. Mereka tidak akan canggung berinteraksi di ruang siber dengan berbagai fungsi. Berinteraksi yang sifatnya kolektif maupun privat. Salah satu hal yang kerap kali dijadikan sebagai ruang mengusir kebosanan di tengah pandemi adalah aktivitas  cybersex .  Seiring perkembangan dan meluasnya penggunaan internet memunculkan revolusi seksual yang memungkinkan mereka melakukan eksplorasi seksual yang melampaui batas-batas budaya, gender, usia, agama, bangsa, bahkan be...

AKHIRAT DAN SETELAH KITA

AKHIRAT DAN SETELAH KITA Setelah kematian, hal yang  paling melekat untuk beberapa atau bahkan mayoritas orang adalah Akhirat, surga-neraka. Eksekusi di alam baka, yang menginterpretasikan bilik mana yang kelak kau singgahi sebagai akhir jiwamu menetap. Kepasrahan akan kehidupan setelah kematian membuat beberapa insan mencoba melupakan atau bahkan telah melupakan esensi sebenarnya dari hidup itu sendiri. Mmmm okey, kita gantung sejenak klaim agamis di bilik sebelah. Tenang, nanti kita ambil lagi jika diperlukan. Insan-insan yang mencoba melupakan atau bahkan sudah melupakan ini menomor genapkan setelah angka 1 hidup yang dengan jelas sedang ia jalani sekarang, detik ini. “Menabung untuk akhirat” begitu ungkap nya.  Tak sedikit pula orang pamrih melakukan hal-hal terpuji karena ingin mendapat bilik bernama surga, agar namanya tak lupa untuk di catat oleh sang malaikat. Dengan begini, saya tidak menganulir bahwasanya selain kaum agamis yang gila akan baka pun ada orang...