Langsung ke konten utama

AKHIRAT DAN SETELAH KITA


AKHIRAT DAN SETELAH KITA


Setelah kematian, hal yang  paling melekat untuk beberapa atau bahkan mayoritas orang adalah Akhirat, surga-neraka. Eksekusi di alam baka, yang menginterpretasikan bilik mana yang kelak kau singgahi sebagai akhir jiwamu menetap.

Kepasrahan akan kehidupan setelah kematian membuat beberapa insan mencoba melupakan atau bahkan telah melupakan esensi sebenarnya dari hidup itu sendiri. Mmmm okey, kita gantung sejenak klaim agamis di bilik sebelah. Tenang, nanti kita ambil lagi jika diperlukan. Insan-insan yang mencoba melupakan atau bahkan sudah melupakan ini menomor genapkan setelah angka 1 hidup yang dengan jelas sedang ia jalani sekarang, detik ini. “Menabung untuk akhirat” begitu ungkap nya.  Tak sedikit pula orang pamrih melakukan hal-hal terpuji karena ingin mendapat bilik bernama surga, agar namanya tak lupa untuk di catat oleh sang malaikat. Dengan begini, saya tidak menganulir bahwasanya selain kaum agamis yang gila akan baka pun ada orang yang benar-benar tulus melakukan hal-hal terpuji.

Terlintas, terpikirkan ketika saya memberi sedekah kepada pengemis di jalan atau memberikan pisang goreng kepada orang cacat di trotoar jember lor 1 meskipun kondisi sedang lapar, membantu orang yang kesusahan, dan sebagainya, apa itu murni ketulusan hati?  Saya rasa tidak. Kita melakukan semua, atas nama ego, saya merasa senang karena bisa membantu orang lain, maka saya membantu orang lain dengan tujuan menyenangkan diri sendiri. Hal serupa ketika kita terlalu mencintai seseorang. Kebahagiannya adalah kebahagian saya , maka saya membahagiakan dia karena itu juga membahagiakan saya, bukan pure untuk membahagiakan dia.

Apa ada orang yang berbuat baik dengan benar-benar tulus ? oke, kembali ke bahasan pertama yakni akhirat. Konsep akan akhirat sebagai suatu hal yang transendental mungkin kurang-lebih sama di setiap kultur dan kepercayaan. Sama seperti kepercayaan Yunani dan Romawi yang menyebutnya Elysium dan Tartaros yang mendekati konsep surga-neraka dari agama-agama abrahamik.

Kita bebas menginterpretasikan konsep tentang apa yang akan terjadi setelah kita meninggal, bahkan kita bebas untuk mengeklaim konsepsi agama masing-masing terhadap akhirat jauh lebih indah dari agama lain. Toh setelah melewati NDE ( Near Death Experience) dan segenap tahapan menuju kematian secara literal ( its not just mati klinis yang mana jantungmu berhenti berdetak), tubuh kita mulai mengalami proses pembusukan. Kalau kamu dikubur, sel tubuhmu akan menjadi nutrisi untuk bakteri, cacing, fungi. Hal yang sama akan terjadi apabila dibiarkan membusuk, tulang tulang mu akan membusuk dan kemudian menjadi mineral, also jadi humus untuk membantu kesuburan tanah. Hal lain juga akan terjadi padamu apabila tubuhmu dikremasi, energimu akan lepas dalam bentuk dan cahaya.

So, atom-atom dalam tubuh kamu akan kembali lagi menjadi bagian dari alam. Energi dalam tubuhmu pun akan dilepas menjadi sumber energi bagi kehidupan orang lain. Atom serta partikel dalam tubuh kamu akan membentuk kehidupan baru. And finally, kematian kamu akan membentuk kehidupan baru.  Who knows right?  Layaknya  jari telunjukmu yang terbentuk dari sisik stegosaurus. Menurut hukum kekekalan massa material tidak bisa diciptakan atau bahkan dihancurkan. Meski adapun kenyataan bahwa, kita, dan segala yang membentuk kita adlaah karbon, nitrogen, dan oksigen yang tercipta dari ledakan bintang 4.5 tahun yang lalu. Ini tentang bagaimana bintang mati meledak, supernova, justru menghidupkan hal lain dan sel-sel primordial yang akan membentuk kita nantinya. Baik yang seperti dikatakan oleh Carl Sagan pada tahun 1973 dalam “ The Cosmic Connection: An Extraterrestrial Perspective”, We are made of star stuff. Lebih indah dari Nirwana, Elysium, Lapangan Elysian, Folkvangr, Valkuntha serta surga-surga lain.

Komentar

  1. BagusYok....
    Tulisan nya asik ....
    Meskipum masih ada tapinya😅

    .
    Semangat terus norms

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cyber sex : Tantangan baru millenial di masa pandemi.

Rasa bosan dan lelah karena berdiam diri di rumah terlalu lama kerap kali dihadapi oleh para millennial. Mereka yang terbiasa aktif dan mempunyai mobilitas yang tinggi tiba-tiba dihadapkan pada kondisi pandemi covid-19 yang membatasi aktivitas mereka.  Mau tidak mau mereka harus menyesuaikan diri menghadapi situasi ini. Salah satu hal yang kerap menjadi ruang aktualisasinya adalah ruang siber. Ruang tersebut akan banyak membantu mengusir kebosanan mereka di tengah kondisi krisis yang belum juga membaik. Mereka tidak akan canggung berinteraksi di ruang siber dengan berbagai fungsi. Berinteraksi yang sifatnya kolektif maupun privat. Salah satu hal yang kerap kali dijadikan sebagai ruang mengusir kebosanan di tengah pandemi adalah aktivitas  cybersex .  Seiring perkembangan dan meluasnya penggunaan internet memunculkan revolusi seksual yang memungkinkan mereka melakukan eksplorasi seksual yang melampaui batas-batas budaya, gender, usia, agama, bangsa, bahkan be...

Pilihan Para Penumpang

Akhir akhir ini saya sering membaca analogi ini di timeline timeline media sosial. Begini nih isi nya "Indonesia adalah sebuah bus yang sedang mengarah pada suatu tujuan" pernah mebaca atau melihatnya? Demikianlah analogi yang sering di lantunkan dengan semangat oleh pendukung pasangan capres-cawapres (tertentu) dalam pemilu 2019 Dalam analogi tersebut, dapat kita pahami masyarakat sebagai penumpangnya sedangkan pilpres sebagai sebuah transisi, ketika para penumpang memutuskan apakah mereka akan tetap menggunakan supir lama atau menggantinya dengan supir baru. . . Seberapa tepat penumpang membidik supir yang akan mengendarai bus bernama Indonesia ini menentukan keselamatan mereka sampai ditujuan? . . Jika yang di pilih para penumpang adalah supir yang ugal ugalan, penumpang tidak akanu tiba di tujuan dengan selamat justru masuk jurang dan celaka. Lebih baik lambat asal selamat di bawah kendali supir yang kadang nampak bingung dan kerap mengambil jalan yang berp...