Saya persembahkan tulisan ini tepat pada hari perempuan internasional, meskipun saya sudah menulisnya sejak bulan kemarin. Banyak di postingan sosial media bahwa perempuan seharus nya tidak usah susah payah mengejar pendidikan yang tinggi. Istri harus dirumah, mengasuh anak, menghormati dan melayani suami dengan baik. Saya anggap ini adalah suatu keterbelakangan pemikiran di era emansipasi saat ini.
Suatu ketika saya melihat salah satu postingan di Facebook. Dalam postingan tersebut, di ilustrasi yang mendukung ibu rumah tangga yang tidak bekerja.
Ilustrasinya kira-kira begini: " Suami bekerja, gaji Rp 4 juta. Istri juga bekerja, gajinya Rp 3 juta. Kemudian sang istri memutuskan berhenti bekerja. Lalu apakah keluarga itu menjadi kekurangan? Tidak! Gaji suami kemudian menjadi Rp 7 juta! Jadi cukup! Dari mana pendapatan suami tiba-tiba menjadi naik? Dari Allah! Allah mampu membuka pintu rejeki dari mana saja, entah suami naik pangkat, dapat kontrak baru, bekerja di perusahaan yang lebih hebat dan sebagainya, tetapi intinya sumber nafkah adalah murni suami. Jadi istri yang bekerja untuk menambah penghasilan keluarga itu mengada-ada dan bahkan melecehkan kuasa Allah! "
Saya tidak habis pikir dengan cara pandang yang sangat naif seperti ini. Tapi baiklah kita membahas dari sudut pandangnya sendiri.
Saya sependapat bahwa rejeki, berkat, rahmat, apapun konsep anda tentang kecukupan di dunia ini adalah atas kehendak Sang Khalik. Nah justru itu saya ingin bertanya, jika ia konsisten dengan konsep tersebut, menurutnya gaji istri yang Rp 3 juta itu asalnya dari mana?
Apakah ia menganggap uang itu haram? Jika demikian bagaimana ia menjelaskan hal-hal ini?
Apakah ia dulu pernah sekolah? Apakah ketika itu ia diajar seorang ibu guru? Seorang perempuan yang mencari nafkah dengan mengajar anak-anak? Apakah ia menganggap ibu guru itu berdosa karena bekerja, terlebih lagi jika sudah berkeluarga, dan lantas membuang semua ilmu dan nilai-nilai kehidupan yang telah diajarkan sang ibu guru? ( Oh iya sebagai contoh : Kelompok ekstremis seperti Taliban, Boko Haram dan ISIS memang secara spesifik menyerang dan membunuh murid-murid perempuan dan ibu-ibu guru di sekolah karena pandangan semacam ini.)
Apakah ia melahirkan di rumah sakit atau rumah bersalin? Bukankah ia di sana ditolong oleh bidan atau perawat, yang mayoritas nya adalah perempuan. Apakah ia lantas melupakan jasa-jasa para perempuan yang seringkali lembur semalam suntuk demi memastikan keselamatan dirinya dan bayinya, hanya karena mereka berdosa dari mencari nafkah?
Apakah ia berbelanja di pasar atau mal, membuatkan baju ke penjahit, atau pergi ke salon atau spa? Siapa lagi yang paling banyak ia jumpai berjualan di pasar, melayani di kasir, menjahitkan kain sampai jadi baju yang indah, dan memberinya perawatan rambut, wajah dan kulit yang terbaik kalau bukan perempuan?
Kalau ia membayar mereka atas barang dan jasa yang mereka jual, berarti ia mendukung mereka berbuat dosa? Atau bahkan sampai tidak mau membayar karena tidak mau uangnya menjadi uang haram?
Terlepas dari statusnya sebagai ibu rumah tangga, apakah ia punya pembantu? Saya tahu banyak ibu rumah tangga yang tetap mempekerjakan asisten rumah tangga. Apakah ia mengomel kalau si pembantu mengundurkan diri karena ingin menikah? Bukankah seharusnya ia mendukung keputusan si pembantu untuk mengikuti jejaknya menggantungkan nafkah pada suami?
Bagaimana dengan sesama ibu rumah tangga yang punya bakat tertentu dan ingin menyalurkan bakatnya menjadi sesuatu yang bernilai? Mereka membuat boneka, hiasan lucu, pakaian anak, cemilan sehat dan sebagainya yang bisa dijual dan menghasilkan keuntungan yang bermanfaat, bukan hanya untuk keluarganya tetapi juga banyak orang.
Atau paling sederhana: ibu-ibu yang suka berjualan online dari rumah. Jika di rumah mereka punya banyak waktu senggang, apakah uang yang dihasilkan dari memanfaatkan waktu untuk sesuatu yang berfaedah itu tetap haram?
Atau bagaimana dengan mereka yang telah kehilangan suami dan terpaksa berjuang demi menafkahi dan menyekolahkan anak-anaknya? Masih maukah ia menghina perempuan-perempuan demikian? Saya membayangkan solusi yang ekstrem: bagaimana kalau ia menawarkan suaminya sendiri untuk berpoligami dengan menikahi mereka supaya mereka tidak berdosa?
Lalu bagaimana dengan para perempuan yang berdakwah? Bukankah ustadzah-ustadzah yang kerap tampil di berbagai media juga mendapat bayaran? (Saya tidak mengatakan orang yang mendapat upah karena berkotbah itu salah.) Apakah ia tidak mau mendengarkan tausyiah mereka, dan bahkan menganggap apapun yang mereka katakan, betapapun akuratnya jika merujuk pada kitab suci, adalah tidak sah?
Dan terakhir: bagaimana dengan ibunya sendiri? Bekerjakah ia? Jika ya, beranikah ia berdiri di hadapan ibunya dan menudingnya selama ini telah berdosa karena bekerja demi mencukupi kebutuhannya di masa kanak-kanak?
***
Mari kita lihat sisi sebaliknya.
Sesuai peraturan, teman mama saya mendapat cuti melahirkan selama tiga bulan. Sampai dengan kelahiran putrinya, ia tidak punya banyak kegiatan selain jalan-jalan di sekitar rumah dan mau tidak mau bertemu dengan para ibu rumah tangga yang sudah terbiasa dengan tinggal di rumah.
Ia benar-benar tersiksa dengan pembicaraan mereka: gosip tidak habis-habisnya, menjelek-jelekkan (dan mencurigai) suami sendiri, membandingkan anak mereka dengan anak yang lain, dan sebagainya.
Bagi teman mama saya, gosip di kantor belum seberapa santer dibandingkan gosip yang beredar di kalangan ibu rumah tangga. Panas, kasar, dan tidak jarang tidak senonoh. Katanya, lebih berat menjaga diri supaya tidak terpengaruh dan bahkan larut dalam pergaulan demikian daripada menjaga diri di tempat kerja.
Yang satu ini baru saya ketahui dari mama saya, dan ia sendiri juga baru mendengar dari teman nya. Ternyata banyak ibu rumah tangga yang kehidupannya berkecukupan menghabiskan hari mereka untuk berfoya-foya.
Di pagi hari setelah mengantar anak ke sekolah, mereka beramai-ramai naik mobil,misalnya ke Mall. Di sana mereka jalan-jalan, belanja, ber-selfie/wefie ria, wisata kuliner dan pulang dari sana lalu menjemput anaknya dari sekolah.
Dan saya ingat dulu ada postingan lain di Facebook sudah menggambarkannya dengan tepat: “Tuhan memang adil: Suami cari duit, aku bantu ngabisin. Life is perfect!” Dan dengan itu ia mendorong teman-temannya yang perempuan untuk segera menikah. Tunggu apa lagi, katanya. -_-
Sekarang, banyak bertebaran akun akun sosial media untuk berdagang meskipun dengan testimoni yang kurang bisa dipercaya!!! Tetapi setidaknya akun mereka penuh dengan usaha mencari nafkah secara halal, bukan mengunggah hal-hal negatif seperti mencela ibu yang bekerja, mengejek suami yang tidak becus, menganggap dirinya perempuan paling hebat atau mengumbar teori konspirasi dan bahkan mendiskriminasi golongan tertentu.
***
Intinya, saya tidak berada pada ujung ekstrem yang satu lagi, yaitu menganggap buruk semua ibu rumah tangga yang tidak bekerja. Semua orang, pria atau wanita, punya beban dan tantangan masing-masing. Setiap keputusan yang diambil di kolong langit yang fana ini pasti ada sisi baik dan buruknya.
Tetapi dalam konteks berumah tangga, keputusan yang diambil haruslah keputusan bersama. Dengan demikian hal tersebut juga menjadi tanggung jawab bersama. Dan tidak terbatas pada soal sumber penghasilan atau mengelola keuangan saja.
Benar bahwa Tuhanlah yang menyediakan rejeki untuk keluarga. Tetapi sekali lagi, jika Tuhan menganugerahi anda karunia dengan membentuk keluarga, maka sudah seharusnya anda dan pasangan mempertanggungjawabkan karunia itu dengan memikirkan pengelolaanya secara arif, bukan main selonong dengan naif.
Jangan asal mengekor nilai-nilai yang dikira suci padahal sebenarnya tidak esensial bahkan mungkin salah tafsir (kalau tidak mau dibilang sesat).
Jadi jika perempuan memutuskan bekerja atau tidak, maka yang menjadi patokan hanya satu: itu adalah yang terbaik bagi keluarga anda, terutama anak-anak. Jangan mengambil keputusan itu hanya karena terpengaruh orang lain. Dan yang tidak kalah penting, hargailah keputusan orang lain.
Ada banyak hal mengapa perempuan bekerja. Mungkin yang paling penting justru bukanlah uang, tetapi mewujudkan cita-cita masa kecilnya. Perlu diakui ada yang sangat ambisius sehingga melupakan keluarga atau kehidupan pada umumnya di luar pekerjaan.
Ada pula yang (karena sudah berkecukupan) menganggap kerja hanya sekedar “aktualisasi diri” sehingga mereka sok menjadi wanita karir, padahal di kantor malah menjadi duri dalam daging. Sebaliknya ada yang berdedikasi menjadi ibu rumah tangga, tetapi karena benar-benar sibuk dengan urusan rumah tangga, ia tidak punya waktu untuk bergosip dan berfoya-foya, sehingga membangun tim yang baik di rumah dengan suami.
.
Semoga di Hari Perempuan Internasional ini, perempuan Indonesia semakin menghargai sesamanya, dan juga semua orang. Ingatlah bahwa kebebasan berpikir dan berpendapat dan bertindak anda hari ini adalah hasil perjuangan perempuan di masa lalu, dan itu termasuk ibu anda.

Komentar
Posting Komentar