Problema dan Pandemic
“Mahasiswa harus kritis atau politis?”
Norma Aulia
Selamat Tahun Baru! Rupanya seruan itu tidak bertahan lama. Euforia akan bergantinya tahun serta harapan-harapan baru yang dilontarkan oleh seluruh kelas masyarakat telah pudar menjadi sumber ketakutan terhadap wabah pandemic covid-19. Ini bukan menjadi masalah yang sepele karena selain hampir seluruh negara terpapar, pemerintah harus melakukan manuver-manuver untuk mengatasi dampak dari covid-19. Tidak hanya di sektor politik dan ekonomi saja, bahkan sektor pendidikan juga jelas terkena dampaknya. Terlihat dari kebijakan yang dibuat per 16 maret 2020, pemerintah melayangkan surat agar setiap institusi melakukan segala aktivitas dari rumah dan kegiatan belajar mengajar pun juga terpaksa dilakukan seperti itu. Saya yakin dalam menjalankan kebijakan baru tersebut, semua institusi terus mengupayakan untuk terus beradaptasi agar bisa melaksanakan kebijakan baru tersebut dengan sebaik-baiknya. Tidak lupa pula dengan kondisi pandemi seperti ini, komunikasi menjadi hal yang penting agar koordinasi tidak hanya terjadi secara masif tapi juga memiliki nilai.
Hal ini juga terjadi di level Universitas, Universitas Jember khususnya. Sesuai dengan falsafah tridarma perguruan tinggi; pendidikan, penelitian, dan pengabdian mahasiswa sangatlah dibutuhkan sebagai pengendali sentral dalam segala kebijakan yang dikeluarkan. Kalimat “kalau bukan mahasiswa, siapa lagi?” akan relate jika kalian masih memegang teguh nilai-nilai idealisme, karakteristik, serta budaya membangun, tentunya dengan arah yang tepat. Dalam hal ini, jangan sampai segala sesuatu yang kita lakukan dinilai hanya reaksioner saja, namun harus progresif serta revolusioner. Ya, kasarannya agar jelas dan seimbang antara kebutuhan pokok dan aspek politis nya. Semenjak kebijakan dilayangkan, terdapat banyak gejolak-gejolak yang terjadi. Salah satunya adalah terciptanya aliansi 13 BEM Fakultas yang mengkritik kebijakan kampus a.k.a kebijakan rektor yang dinilai lamban dan tidak jelas. Dari release dan seruan yang di lontarkan, saya bisa bersepakat bahwa peranan mahasiswa sangat dibutuhkan untuk mengontrol kebijakan kampus agar publik bisa menelaah kembali dan menjadi terbuka terhadap isu-isu kampus serta mampu menggiring opini-opini publik. Layaknya konsepsi pemikiran Demokrasi Liberal yang menyebutkan bahwa propaganda yang dilakukan oleh yang ahli (BEM) bisa membentuk frame atau konsen yang sama bahwasanya hal tersebut dibutuhkan oleh publik dan layak diperjuangkan maka saya sepakat.
Namun yang menjadi titik keberatan saya adalah, Aliansi BEM F masih kurang memahami secara penuh mengenai hierarki yang terdapat didalam Rektorat. Setiap struktural atau elemen pasti memiliki tupoksi masing-masing, akan terdengar lucu ketika segala sesuatu menjadi kesalahan rektor tanpa mengkaji lebih dalam hierarki dan tupoksi atau bahkan unsur-unsur politis didalamnya. “tapi kan, kebutuhan bersama yang kita perjuangkan nihil dari unsur-unsur politik?” Kalian bebas kritis tapi jangan melupakan unsur-unsur politik yang terkandung didalamnya, perlu diingat secara sederhana bahwa kamu bisa membeli semua yang kamu mau adalah hasil dari kebijakan politik. Apa tidak terlalu buta jika melihat semua ketidak jelasan dan kejanggalan kebijakan di Kampus Tegal Boto tanpa menilik unsur politis? Seperti yang saya ulas tadi, di Negara Demokrasi ini kita bebas untuk menyuarakan pendapat apalagi membentuk Aliansi untuk menuntut ketidak adilan, kejanggalan, serta ketidakjelasan kebijkan yang telah di buat oleh penguasa. Namun, apa yang menjadi tuntutan bersama harus tuntas secara pembahasan kolektif serta aspek-aspek politis yang membelenggunya (ini level Univ lhoo) Apalagi teruntuk Aliansi BEM F yang sangat gencar dalam perihal kebutuhan kita bersama (upss, BEM U juga sepertinya) dan tidak pernah luput mengkritik apabila kebutuhan dan hak-hak mahasiswa tidak terpenuhi. Saya juga akan memberi kartu kuning terhadap kalian yang level idealisme nya di mengenyangkan perut sendiri tanpa pernah menoleh sekitar. Apa kabar Tri Darma Perguruan Tinggi yang selalu digaungkan ketika Ospek Mahasiswa Baru beserta lagu-lagu yang katanya wajib dilafalkan sebagai salah satu pembentuk jiwa-jiwa idealisme? Sebelum saya akhiri, saya punya usulan yang mungkin sedikit tepat namun terlambat. Dari pada kartu kuning untuk Rektor, bagaimana jika diubah menjadi kartu kuning untuk Pembantu rektor? Loh kenapa? Makanya, lakukan dulu saran-saran yang saya sajikan barulah membentuk aliansi.
Salam Mahasiswa!
Komentar
Posting Komentar