Langsung ke konten utama

Cyber sex : Tantangan baru millenial di masa pandemi.

Rasa bosan dan lelah karena berdiam diri di rumah terlalu lama kerap kali dihadapi oleh para millennial. Mereka yang terbiasa aktif dan mempunyai mobilitas yang tinggi tiba-tiba dihadapkan pada kondisi pandemi covid-19 yang membatasi aktivitas mereka. 
Mau tidak mau mereka harus menyesuaikan diri menghadapi situasi ini. Salah satu hal yang kerap menjadi ruang aktualisasinya adalah ruang siber. Ruang tersebut akan banyak membantu mengusir kebosanan mereka di tengah kondisi krisis yang belum juga membaik.

Mereka tidak akan canggung berinteraksi di ruang siber dengan berbagai fungsi. Berinteraksi yang sifatnya kolektif maupun privat. Salah satu hal yang kerap kali dijadikan sebagai ruang mengusir kebosanan di tengah pandemi adalah aktivitas cybersex

Seiring perkembangan dan meluasnya penggunaan internet memunculkan revolusi seksual yang memungkinkan mereka melakukan eksplorasi seksual yang melampaui batas-batas budaya, gender, usia, agama, bangsa, bahkan bentuk fisik. Ekspresi diri yang erotis dapat mereka salurkan melalui email, sosial media, aplikasi digital, webcam interaktif, atau teknologi sentuhan (sense of touch). Karena anonimitas ruang siber, mereka dapat mengekspresikannya dengan atau tanpa identitas asli mereka.

Adanya peningkatan akses internet yang berkaitan dengan sex ditegaskan dalam sebuah data Situs pornografi Pornhub pada 20 Maret 2020 memperlihatkan ada peningkatan traffic 13,7 persen di era pandemi dibandingkan bulan sebelumnya. Bisa jadi peningkatkan traffic ini terjadi karena situs porno ini menawarkan akses gratis akun premium selama sebulan. 

Selain itu juga, berbagai data juga menunjukkan aktivitas penggunaan internet mengalami peningkatan yang pengaksesnya juga banyak dari kaum millennial.
Millenial dan Varian Cyber-Sexdalam Ruang Digital 
Generasi millennial yang hidup di era digital pasti mudah sekali adaptasi dengan kondisi baru. Cybersex bukan sesuatu hal yang baru di Indonesia, tetapi prediksi saya dalam kondisi yang mengharuskan orang untuk jaga jarak dan mengurangi intensitas bertemu seperti saat ini akan terjadi peningkatan aktivitas sexual di ruang siber. Ruang siber (cyber-space) menyediakan layanan tersebut.

Salah satu anasir dari cybersex adalah fantasi seks yang dilakukan oleh partisipan dengan melukiskan tindakannya dan menanggapi lawan berbincang yang kebanyakan dalam bentuk tertulis dan dirancang untuk stimulasi seks maupun fantasi (Harley, 1996). Fantasi adalah sebuah ruang privat dalam diri kita dan itu merupakan tempat yang paling jujur. Dalam ruang fantasi tersebut, kita bisa membayangkan apa saja yang kita sukai dan nikmati, Namanya saja fantasi.

Cybersex bisa jadi menyediakan ruang untuk mengaktualisasikan fantasi. Berbagai aktivitas sexual bisa dilakukan. Piliang (2007) mengulas aktivitas sexual yang kerap dilakukan di ruang cyber. Dalam cyber-sex terdapat berbagai pintu masuk ke dalam berbagai bentuk simulacrum seks dan seksualitas, berbagai tindak dan adegan seksual (berupa foto, video, dan filem), yang ‘menawarkan’ berbagai aktivitas seksual: ‘melihat’ (voyeurism); ‘role playing’ atau memainkan peran seksual tertentu; ‘permainan seksual’ (adult sexual gaming); kegiatan seksual ‘terhadap’ internet (cyber-fetishism), dan; kegiatan seksual jarak jauh melalui internet (teledildonic).

Cybersex, tantangan era kini
Berbagai aktivitas cybersex tidak saja bertentangan dengan nilai-nilai budaya (etika dan adat) dan agama (fiqih, akhlak, iman), tetapi lebih jauh lagi mengancam otoritas agama dan teks-teks suci tentang kesucian dan keadaban manusia. Agama atau norma sosial yang hidup di masyarakat yang mengatur batasan-batasan kini berhadapan dengan sebuah dunia yang di dalamnya tidak ada aturan, norma dan batasan itu sendiri.

Pastinya tidak cukup menghalau perubahan hanya dengan menentukan mana yang boleh dan mana yang tidak. Kegagapan atas realitas banyak dicontohkan negara melalui Menkominfo, yang seolah tidak ada solusi lain selain sensor dan blokir situs atau akun. Padahal menghadapi hal tersebut generasi hari ini lebih cerdik. Dengan sebuah program yang tidak terlalu mahal pun blokir bisa ditembus.
Tatanan sosial baik agama maupun budaya masyarakat mengatur tubuh, organ tubuh, hasrat dan penggunaan tubuh kini sedang menghadapi fenomena baru tersebut. Dalam kontek tersebut setidaknya ada dua hal yang hendak saya ulas yang berkaitan dengan cybersex.

Pertama, cybersex dianggap aman karena mampu menjauhkan dari sejumlah perkara di dunia nyata yang kerap dikaitkan dengan seks yang berpenyakit. Hal diatas seperti yang diungkapkan Arthur Kroker ketika menjelaskan karakteristik cybersex dalam sebuah frasa yang menarik: “sex without secretions” (disitir dalam Bell : 2000, Irawanto : 2017). Yakni aktivitas sex tanpa pertukaran cairan tubuh tetapi pelakunya bisa menikmati seperti berhubungan secara langsung.

Kedua, konsep tentang aurat dalam dunia siber yang bergerak. Tubuh dalam aturan agama diatur sedemikian mungkin. Ada batasan ‘halal’/’haram’, mana yang boleh dilihat dan mana yang tidak. Tubuh hanya dapat dilihat dan disentuholeh orang sah secara agama (suami-istri). 

Dalam konteks cybersex, hal tersebut mengalami perubahan. Piliang (2007) menegaskan bahwa tubuh dan aktivitas seksual yang ditampilkan di dalam berbagai posisi, pose, detil dan ekspose kini menjadi milik siapa saja yang menginginkannya. Bahkan, masturbasi, yang dulu merupakan ‘wilayah pribadi’ kini dipertontonkan pada publik. 

Cybersex menyediakan itu semua. Sebuah ruang yang bebas dan pengguna terkadang bisa menyembunyikan identitas diri. Cybersex seolah menjadi ruang resistensi bagi orang-orang di dunia nyata. Sesuatu hal yang tidak mungkin anda kerjakan didunia nyata bisa dikerjakan didunia siber. Terutama yang berkaitan sex.

Dua hal tersebut menjadi fenomena yang menarik. Apalagi intensitasnya akan diprediksi meningkat ketika memasuki era new normal. Orang akan mengurangi interaksi langsung dan akan banyak bergulat di dunia digital. Sebuah tantangan bagi negara, agama dan tatanan sosial di masyarakat. Semoga kondisi tersebut tidak menjadi petaka di masa depan dan generasi kita mampu keluar dari jebakan dunia baru yang bergerak begitu cepat.

Komentar

  1. Cybersex apakah sebuah kecenderungan seseorang atau bisa dikatakan sebagai fetish. Atau bahkan fenomena ini menyentuh secara grass root?
    Artinya siapapun dapat masuk didalamnya dengan "embel-embel" semua yg terdapat di ruang publik dpt dimiliki secara pribadi untuk pemuas libido semata?

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

AKHIRAT DAN SETELAH KITA

AKHIRAT DAN SETELAH KITA Setelah kematian, hal yang  paling melekat untuk beberapa atau bahkan mayoritas orang adalah Akhirat, surga-neraka. Eksekusi di alam baka, yang menginterpretasikan bilik mana yang kelak kau singgahi sebagai akhir jiwamu menetap. Kepasrahan akan kehidupan setelah kematian membuat beberapa insan mencoba melupakan atau bahkan telah melupakan esensi sebenarnya dari hidup itu sendiri. Mmmm okey, kita gantung sejenak klaim agamis di bilik sebelah. Tenang, nanti kita ambil lagi jika diperlukan. Insan-insan yang mencoba melupakan atau bahkan sudah melupakan ini menomor genapkan setelah angka 1 hidup yang dengan jelas sedang ia jalani sekarang, detik ini. “Menabung untuk akhirat” begitu ungkap nya.  Tak sedikit pula orang pamrih melakukan hal-hal terpuji karena ingin mendapat bilik bernama surga, agar namanya tak lupa untuk di catat oleh sang malaikat. Dengan begini, saya tidak menganulir bahwasanya selain kaum agamis yang gila akan baka pun ada orang...

Pilihan Para Penumpang

Akhir akhir ini saya sering membaca analogi ini di timeline timeline media sosial. Begini nih isi nya "Indonesia adalah sebuah bus yang sedang mengarah pada suatu tujuan" pernah mebaca atau melihatnya? Demikianlah analogi yang sering di lantunkan dengan semangat oleh pendukung pasangan capres-cawapres (tertentu) dalam pemilu 2019 Dalam analogi tersebut, dapat kita pahami masyarakat sebagai penumpangnya sedangkan pilpres sebagai sebuah transisi, ketika para penumpang memutuskan apakah mereka akan tetap menggunakan supir lama atau menggantinya dengan supir baru. . . Seberapa tepat penumpang membidik supir yang akan mengendarai bus bernama Indonesia ini menentukan keselamatan mereka sampai ditujuan? . . Jika yang di pilih para penumpang adalah supir yang ugal ugalan, penumpang tidak akanu tiba di tujuan dengan selamat justru masuk jurang dan celaka. Lebih baik lambat asal selamat di bawah kendali supir yang kadang nampak bingung dan kerap mengambil jalan yang berp...